BeritaCovid-19

PROTOKOL KOMUNIKASI PUBLIK

PENANGANAN COVID - 19
PROTOKOL KOMUNIKASI PUBLIK

Dokumen ini menjelaskan tentang hal-hal terkait komunikasi penanganan COVID-19 sebagai respon dari berkembangnya COVID-19 yang terindentifikasi pertama kali di Provinsi Wuhan, China. Dokumen ini adalah petunjuk teknis untuk Indonesia yang akan membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menanggapi dan menyampaikan informasi tentang COVID-19 kepada masyarakat. Dokumen ini dapat diperbarui sesuai dengan perkembangan informasi tentang COVID-19 di dunia. Protokol ini diadopsi dari beberapa protokol yang ada, khususnya yang dibuat oleh WHO.

LATAR BELAKANG

Dalam penanganan wabah penyakit di dunia, Anthony de Mello pernah mengingatkan bahwa jumlah korban bisa menjadi lima kali lipat, kalau terjadi ketakutan di saat terjadi wabah penyakit. Seribu orang menjadi korban karena sakit, sedangkan empat ribu orang menjadi korban karena panik. (Mello, A. D. (1997). The heart of the enlightened: a book of story meditations. Glasgow: Fount Paperbacks)

Berkaca pada hal tersebut, komunikasi adalah bagian terpenting dalam menghadapi ancaman pandemi. Kepercayaan publik perlu dibangun dan dijaga agar tidak terjadi kepanikan dalam masyarakat dan agar penanganan dapat berjalan lancar.

Salah satu instruksi yang diberikan Presiden Joko Widodo adalah Pemerintah harus menunjukan bahwa Pemerintah serius, Pemerintah siap dan Pemerintah mampu untuk menangani outbreak ini.

Persepsi tentang kesiapan dan keseriusan Pemerintah perlu disampaikan kepada publik melalui penjelasan yang komprehensif dan berkala, dengan menjelaskan apa yang sudah dan akan dilakukan oleh Pemerintah.

TUJUAN KOMUNIKASI

  1. Menciptakan masyarakat  yang  tenang,  dan  paham  apa  yang  mereka  harus lakukan bagi lingkungan terdekatnya;
  2. Membangun persepsi  masyarakat  bahwa  Negara  hadir  dan  tanggap  dalam

mengendalikan situasi krisis yang terjadi

EMPAT PILAR KOMUNIKASI PUBLIK TERKAIT COVID-19

  1. Himbauan masyarakat tetap tenang dan waspada
  1. Koordinasi dengan instansi terkait.
  2. Pemberian akses informasi ke media
  3. Pengarusutamaan gerakan “cuci tangan dengan sabun”

NARASI UTAMA

Narasi utama dalam penyampaian komunikasi oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah kepada masyarakat yaitu:

Pemerintah Serius, Siap dan Mampu Menangani COVID-19” “Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada

“COVID-19 Bisa Sembuh”

#LAWANCOVID19

RUJUKAN

http://covid19.kemkes.go.id/

Untuk koordinasi komunikasi dan informasi dapat menghubungi :

Nama                      : dr. Achmad Yurianto

Jabatan                   : Juru Bicara COVID-19 / Sesditjen P2P Kemenkes

Nomor Telepon     : 0813 1025 3107

KEGIATAN KOMUNIKASI PEMERINTAH PUSAT

  1. Membentuk Tim Komunikasi.
  2. Menunjuk Juru Bicara dari Kementerian Kesehatan yang memiliki artikulasi dan kemampuan dalam menghadapi media.
  3. Membuat media cente
  4. Membuat website sebagai rujukan informasi utama.
  5. Menyampaikan data harian nasional secara berkala melalui konferensi pers (yang dilakukan HANYA oleh Juru Bicara COVID-19), rilis dan update di website :
      • Jumlah dan sebaran, Orang dalam Risiko (ODR).
      • Jumlah dan sebaran, Orang dalam Pemantauan (ODP)
      • Jumlah dan sebaran, Pasien dalam Pengawasan (PDP).
      • Jumlah dan sebaran, pasien yang sudah dinyatakan sehat.
      • Jumlah dan sebaran, spesimen yang diambil.
      • Jumlah dan sebaran, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen.
  6. Membuat produk komunikasi dan menyebarkan Informasi lain tentang:
    • Penjelasan dasar mengenai apa COVID-19
    • Penjelasan Pencegahan wabah COVID-19
    • Protokol penanganan dari Orang dalam Pengawasan sampai dinyatakan sehat.
    • Kriteria Pasien dalam Pengawasan.
    • Tindakan terhadap Pasien dalam Pengawasan.
    • Penjelasan tentang karantina dan karantina yang dapat dilakukan di rumah. g.  Kriteria Orang dalam Pemantauan.
    • Protokol penanganan orang masuk dari negara berisiko dan pengawasan di perbatasan.
    • Protokol WHO tentang penggunaan masker dan alat pelindung diri yang digunakan.
    • Protokol komunikasi sekolah.
    • Kesiapan logistik dan pangan.
    • 132 rumah sakit rujukan penanganan COVID-19.
    • Penjelasan   tentang   pemeriksaan   kesehatan   beserta   biaya   yang dibebankan.
    • Penjelasan virus mati dalam 5-15 menit.
    • Penjelasan detail tentang fasilitas HOTLINE Pemerintah Pusat: 119. p.  Penjelasan mengenai hoax dan disinformasi yang terjadi.

 Membentuk Tim Komunikasi yang diketuai oleh Pimpinan Daerah.

  • Menunjuk Juru  Bicara  dari  Dinas  Kesehatan  yang  memiliki  artikulasi  dan kemampuan dalam menghadapi media.
  • Informasi  berikut   dapat   disampaikan   setelah   mendapat   persetujuan   dari
  • Informasi   berikut   dapat   disampaikan   setelah   mendapat   persetujuan   dari Pemerintah  Pusat,  dan  HANYA  disampaikan  oleh  Juru  Bicara  COVID-19

Pemerintah Daerah :

    • Jumlah dan sebaran, Orang dalam Risiko (ODR) khusus di daerah tersebut.
    • Jumlah dan sebaran, Orang dalam Pemantauan (ODP) khusus di daerah tersebut.
    • Jumlah dan sebaran, Pasien dalam Pengawasan (PDP) khusus di daerah tersebut.
    • Jumlah dan sebaran, pasien yang sudah dinyatakan sehat khusus di daerah tersebut.
    • Jumlah dan sebaran, spesimen yang diambil khusus di daerah tersebut.
    • Jumlah dan sebaran, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen khusus di daerah tersebut.
    • DATA DAN IDENTITAS PASIEN TIDAK DISEBARLUASKAN KE PUBLIK.
  • Juru Bicara dari tingkat Provinsi dapat mengumumkan informasi yang disebut di nomor 3 di atas pada tingkat provinsi masing-masing.
  • Juru Bicara dari tingkat kab/kota dapat mengumumkan informasi yang disebut di nomor 3 di atas pada tingkat Kab/Kota masing-masing.
  • Menggunakan materi yang telah dikembangkan oleh Pemerintah Pusat (Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan Informasi) untuk dapat disebarluaskan di daerah masing-masing :
    • Penjelasan dasar mengenai apa COVID-19
    • Penjelasan Pencegahan wabah COVID-19
    • Protokol penanganan dari Orang dalam Pengawasan sampai dinyatakan sehat.
    • Kriteria Pasien dalam Pengawasan.
    • Tindakan terhadap Pasien dalam Pengawasan.
    • Penjelasan tentang karantina dan karantina yang dapat dilakukan di rumah. g.  Kriteria Orang dalam Pemantauan.
    • Protokol penanganan orang masuk dari negara berisiko dan pengawasan di perbatasan.
    • Protokol WHO tentang penggunaan masker dan alat pelindung diri yang digunakan.
    • Protokol komunikasi sekolah.
    • Kesiapan logistik dan pangan.
    • 132 rumah sakit rujukan penanganan COVID-19.
    • Penjelasan tentang pemeriksaan kesehatan beserta biaya yang dibebankan.
    • Penjelasan virus mati dalam 5-15 menit.
    • Penjelasan detail tentang fasilitas HOTLINE Pemerintah Pusat: 119.
    • Penjelasan mengenai hoax dan disinformasi yang terjadi.
  • Seluruh pimpinan daerah di tingkat provinsi dan kab/kota dihimbau untuk mensosialisasikan informasi yang disebutkan di nomor 6 di atas kepada seluruh lapisan masyarakat, dengan dipandu oleh Dinas Kesehatan setempat, dan menggunakan narasi-narasi yang disiapkan di website rujukan Kementerian Kesehatan.
  • Pemerintah Daerah dapat membuat produk komunikasi sesuai dengan data dan kebutuhan daerah masing-masing.

 

PIHAK – PIHAK YANG TERLIBAT

Berikut merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi penanganan COVID-19:

          1. Instalasi Kesehatan Tingkat Pertama.
          2. Rumah Sakit Rujukan.
          3. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota/Kabupaten.
          4. Dinas Kominfo Provinsi dan Kota/Kabupaten
          5. Kementerian Kesehatan RI.
          6. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.
          7. Kantor Staf Presiden RI.

 

SASARAN KHALAYAK

Sasaran khalayak dibagi menjadi 2 klaster utama seperti dibawah ini. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama-sama menyusun dan menyebarkan produk komunikasi yang sesuai untuk kedua klaster tersebut secara nasional dan spesifik sesuai dengan daerah masing-masing.

Klaster sasaran khalayak:

          1. Pelaksana penanganan/pihak-pihak yang terlibat.
            • Para pelaksana harus mengerti rencana aksi yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan dan komunikasi. Pastikan jalur informasi dua arah berlaku dan disepakati oleh seluruh pihak.
            • Sistem komunikasi harus dibentuk untuk memastikan komunikasi terjadi dengan lancar.
          2. Publik
            • Perkotaan
            • Perdesaan
            • Generasi Tua
            • Generasi Muda

 

KANAL KOMUNIKASI

Sasaran khalayak dapat dijangkau melalui berbagai kanal, baik melalui media mainstream, media sosial maupun melalui jaringan komunikasi yang telah terbentuk. Berikut adalah daftar kanal yang bisa digunakan:

          • Website  sebagai  rujukan  pertama.  Silahkan  merujuk  kepada  website  resmi

Kemenkes khusus untuk COVID-19.

          • Televisi
          • Media Cetak
          • Media Online
          • Radio
          • SMS gateaway
          • Media Sosial
          • Jaringan sekolah
          • Jaringan organisasi kepemudaan/agama/politik
          • Jaringan informal lainnya

 

PENDEKATAN

Tindakan yang boleh dilakukan:

          • Sampaikan himbauan untuk tetap tenang;
          • Pemerintah Daerah agar berkomunikasi secara intens dengan pemerintah pusat;
          • Apabila ada kasus di daerah Anda, langsung lapor ke Dinas kesehatan secepat- cepatnya;
          • Memberikan akses kepada media untuk mengetahui informasi terkini mengenai virus
          • Lakukan koordinasi dengan instansi terkait/Forkopimda untuk menjaga situasi tenang dan kondusif;
          • Meningkatkan  kewaspadaan    pada    kelompok-kelompok    yang    berpotensi terdampak;
          • Memonitor tanggapan dari masyarakat tentang isu terkait;
          • Ketika bertemu media, berikan informasi sejelas-jelasnya kepada publik;
          • Jubir harus bisa ditemui dan bisa dihubungi setiap saat.
          • Selalu sampaikan pesan Pola Hidup Bersih dan Sehat;
          • Apabila bertemu media, gunakan bahasa Indonesia yang sederhana sehingga bisa dipahami masyarakat awam.
          • Menunjukkan  bahasa  tubuh  yang  menampilkan  pesan  “siap  dan  mampu” menangani COVID-19.
          • Sampaikan update informasi secara berkala (jumlah kasus,penanganan, dll) yang disampaikan oleh otoritas resmi
          • Saat memberikan update informasi, pastikan mencantumkan keterangan waktu untuk menjamin ketepatan informasi (sebagai contoh, status pada hari Senin tanggal 3 Februari 2020 Pukul 10.00 WIB, tidak ada warga yang terinfeksi COVID-19)
          • Pada setiap  perubahan  yang  terjadi,  informasikan  bahwa  ini  merupakan perubahan dari informasi sebelumnya.
          • Sampaikan juga bahwa stok sembako cukup sehingga masyarakat tidak perlu panik

Tindakan yang tidak boleh dilakukan:

          • Jangan gunakan kata “genting”, “krisis” dan sejenisnya.
          • Pastikan identitas dan lokasi pasien tidak disampaikan ke publik..
          • Jangan memberikan informasi yang berisi asumsi dan dugaan.
          • Jangan menggunakan bahasa teknis atau bahasa asing yang sulit dipahami masyarakat awam.
          • Jangan menunjukkan bahasa tubuh yang tidak serius apalagi meremehkan situasi dengan bercanda.

LAMPIRAN RENCANA AKSI

          1. Sistem komunikasi risiko
            • Memastikan  bahwa   pemerintah   di   tingkat   pusat   sepakat   untuk memasukkan protokol komunikasi dalam aktivitas penanganan dan kewaspadaan dan siap untuk mendiseminasi informasi untuk melindungi kesehatan publik dalam cara yang cepat, transparan dan dapat diakse
            • Mengkaji protokol komunikasi yang sudah ada dan memastikan apakah perlu penyesuaian.
            • Menyepakati prosedur pelepasan informasi, seperti alur persetujuan dan produk komunikasi. Usahakan prosedur persetujuan sesingkat mungkin.
            • Menyiapkan anggaran komunikasi.
            • Membentuk tim komunikasi dan memastikan peran dan tanggung jawab dari masing-masing anggota ti
          2. Koordinasi internal dan mitra
            • Identifikasi mitra – seperti instansi lain, organisasi, komunitas dan pekerja kesehatan – dan kontak informasinya, untuk bekerja secara lintas sektoral.
            • Mengkaji kapasitas komunikasi dari semua mitra, identifikasi sasaran khalayak dan bekerja bersama sebagai tim penanganan lintas sektoral.
            • Merencanakan dan menyepakati peran dan tanggung jawab komunikasi menggunakan tata laksana (sebagai contoh, instansi mana yang menjadi titik kontak pertama untuk isu spesifik, mitra mana yang paling relevan dengan sasaran khalayak yang mana, dst.)
          1. Komunikasi Publik
            • Mengidentifikasi para juru bicara pada seluruh tingkat (pusat dan daerah) dan keahlian masing-masing, dan beri pelatihan bila diperlukan.
            • Susun standar pesan yang digunakan untuk mengumumkan kasus-kasus yang ditemukan, tindakan yang akan dilakukan, himbauan kesehatan dan komunikasi selanjutnya.
            • Identifikasi media-media kunci yang digunakan, siapkan daftar jurnalis dan bangun hubungan baik dengan para jurnalis dengan menyediakan informasi berkala mengenai semua perkembangan.
            • Identifikasi media dan kanal media serta influencers lainnya dan kaji potensi mereka untuk mencapai sasaran khalayak; gunakan kanal influencer yang terpercaya. Dalam konteks COVID-19, pastikan bahwa pekerja kesehatan memahami kekhawatiran yang ada di publik dan terlatih untuk menyediakan himbauan kesehatan kepada masyarakat. pengetahuan dan kebiasaan mereka.
          2. .  Pendekatan Terhadap Komunitas
            • Siapkan metode untuk  memahami  kekhawatiran,  kebiasaan  dan kepercayaan sasaran khalaya
            • Identifikasi  sasaran   khalayak,   dan   kumpulkan   informasi   mengenai pengetahuan dan kebiasaan mereka.
            • Gunakan media sosial, secara proaktif informasikan kepada publik, serta kumpulkan dan jawab semua pertanyaan.
            • Gunakan kanal radio sehingga terjadi interaksi dengan publik
            • Identifikasi influencer di komunitas seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, pekerja kesehatan, dll dan juga jaringan komunikasi diantara para relawan kesehatan, organisasi kepemudaan, organisasi  agama,  dll  yang dapat membantu menjangkau komunitas
            • Antisipasi informasi untuk komunitas disabilita
          3. Menghadapi ketidakpastian dan persepsi serta menangani disinformasi
            • Persiapkan kegiatan komunikasi dengan cermat pada saat mengumumkan kasus pertama, untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan menjawab kekhawatiran yang akan terjadi. Pada saat yang sama berikan himbauan bagaimana masyarakat dapat melindungi diri sendiri dari penyebaran.
            • Siapkan sistem monitor pembicaraan yang  terjadi  dan persepsi  yang terbentuk di publik, terutama mengenai hoax dan disinformasi. Salah satu yang bisa digunakan adalah monitor media sosial serta menangkap masukan dari pekerja kesehatan dan call center.
            • Siapkan sistem untuk menanggulangi hoax dan siapkan daftar Frequently Asked Questions.
            • Usahakan selalu berdialog dengan target khalayak untuk mendapatkan berbagai masukan
          4. Peningkatan Kapasitas
            • Pertimbangkan pelatihan yang diperlukan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam protokol komunikasi, terutama mengenai apa yang sudah dan belum diketahui mengenai COVID-19, prosedur dan rencana penanganan, dan juga kesiapan daerah dalam menangani pandemi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *